![]() |
| terkadang sesuatu hanya bisa di tulis tapi tidak bisa di ucapkan |
"Alhmdulillah...." ucapku selesai salam dan mengakhiri solat subuhku. Ada sesuatu yang terbersit dihati dan fikiranku, "ga jelas". Sudah beberapa hari ini aku agak kurang semangat dalam menjalani hariku. Rasa tidak karuan menyerang bathinku. " Aku memang salah , tapi apa sepantasnya aku harus terima perlakuan yang seperti ini ?" . " Bagaimana dengan perlakuanmu sebelumnya terhadapku ? " , " Bagaimana dengan sikapmu yang sebelumnya kepadaku? ". Bahkan aku tidak menjalin sebuah hubungan dengan mereka, mereka hanya teman-temanku. mereka hanya ingin menghiburku disaat kau tidak pernah mengerti akan perasaanku".
Kata-kata itu terus berputar dikepalaku, berlari-lari, bergantian seolah-olah sebuah jarum yang menusukku secara perlahan. Tak terasa air mataku menetes diatas sajadahku. " Sudahlah,, " fikirku, " Ini jalan untuk ku agar menjadi manusia yang lebih kuat lagi, lebih sabar lagi, lebih bisa menerima lagi. Hidup tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah. Allah masih menyayangiku, Allah masih mencintaiku. Allah tidak pernah meninggalkanku". Kata-kata itu selalu berhasil menguatkan ku, membangkitkan lagi semangatku.
Aku mengutuk diriku yang telah banyak berbuat dosa terhadapNya. akan tetapi DIA tidak pernah meninggalkanku sendirian. Aku merasa menyesal, akan tetapi semua sudah terlanjur. aku tidak bisa mundur lagi, aku tidak bisa mengembalikan keadaanku seperti sebelum semua keadaan ini terjadi.
Aku diam memandanginya, dengan penuh rasa menyesal. tapi itu tidak merubah keadaan. Akhirnya aku siap-siap berangkat ke kantor. Aku tau dengan rasa yang seperti ini sebenernya aku tau bahwa aku tidak bisa konsentrasi dengan kerjaanku. Bahkan diapun tidak suka kalau aku keluar saat ada masalah seperti ini. Tapi aku harus. Aku tidak bisa meninggalkan kantorku, aku punya tanggung jawab terhadap perkerjaanku. Yang selama ini memberiku sesuap nasi untuk bisa beretahan hidup dikota yang sangat kejam ini.
Pamitku tidak dihiraukannya, bahkan saat hendak mencium tangannya pun seolah tidak ikhlas. Aku sadar dia masih marah, dan aku sadar dia masih tidak bisa menerima. Dia diem , Akupun Diem. Dalam hati aku berujar" Aku juga butuh dicintai aa, Aku juga butuh diperhatiin, dan aku juga butuh disayangi, ga cuma kamu. Kenapa hanya kamu yang terus nuntut aku? ". Tapi balik lagi aku ikhlas sayang kepadamu, aku ikhlas cinta kepadamu, karena aku menyayangimu tulus. Dan aku ingin belajar mencintai dan menyanyangimu atasa dasar Cintaku kepada Allah. Aku cukup sakit hati mencintaimu, dan aku cukup tersiksa menyanyangimu. Akan tetapi itu tidak membuatku berhenti mencintaimu, untuk berhenti menyanyangimu. Bukan karena kamu siapa dan bukan karena kamu apa. Akan tetapi aku menghargai komitmen yang aku buat sendiri. Aku percaya kamu orang yang baik, orang yang bisa mendidik aku agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Aku memang bodoh , aku wanita yang tolol, yang bahkan tidak mau mendengar hati nuraniku sendiri. Aku tidak punya teman tempat ku berbagi , aku tidak punya seseorang yang bisa mendengarkanku, mendengarkan ceritaku , mendengarkan keluh kesahku. Aku punya pendamping akan tetapi seolah tidak punya.
Dan sekarang disinilah aku, didepan komputerku, di meja kerjaku. kembali ke rutinitasku, mencoba fokus dengan kerjaanku, mencoba melupakan sejenak masalahku dirumah. Akan tetapi hati dan fikiran ini masih penuh hingga kuputuskan untuk simpan sebagian masalah itu disini. Sambil berfikir, apa yang akan aku lakukan nanti saat bertemu dengan dia lagi ? Apa aku harus diam terus atau aku harus memastikan hubungan ini lagi ?
To be ,, Continued,,,

Komentar
Posting Komentar